Mengetahui adanya niat baik untuk mendukung program Presiden Republik Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN), serta dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan, sekitar akhir Desember 2025 Abdullah, S.H. diperkenalkan kepada seseorang bernama Nyodi oleh temannya, Abdul Haris, melalui sambungan telepon.
Dalam pembicaraan melalui telepon yang melibatkan tiga orang tersebut, Nyodi meyakinkan Abdullah, S.H. bahwa dirinya dapat membantu mengurus pengajuan dapur MBG kepada BGN, mulai dari mendapatkan ID hingga dapur tersebut dapat berjalan atau beroperasi.
Lebih lanjut, Nyodi mengatakan bahwa dirinya bekerja sebagai ASN di Kantor Gubernur. Untuk lebih meyakinkan Abdullah, Nyodi mengirimkan foto dirinya bersama beberapa orang yang diklaim sebagai Pangdam, foto bersama dua orang anggota TNI, serta foto bersama seseorang yang disebut sebagai pihak BGN.
Selanjutnya, Nyodi menentukan waktu untuk melakukan pertemuan di lokasi yang direncanakan menjadi dapur MBG. Setelah Abdullah mengirimkan lokasi atau share location (serlok), dilakukan pertemuan di lokasi calon dapur MBG tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Nyodi dan Abdullah, S.H. melakukan pembicaraan mengenai pengurusan dapur MBG. Pada awalnya, Nyodi meminta biaya “sundul” sebesar Rp170.000.000 per titik serta meminta bagian untuk yayasan sebesar Rp500 per porsi.
Setelah Abdullah melakukan penawaran, akhirnya disepakati biaya “sundul” sebesar Rp150.000.000 per titik dan bagian untuk yayasan sebesar Rp400 per porsi.
Setelah kesepakatan tersebut, Nyodi langsung meminjam meteran dari tetangga setempat untuk mengukur panjang, lebar, serta tinggi plafon bangunan yang akan direnovasi agar memenuhi standar dan ketentuan yang disebut sebagai standar BGN.
Setelah Abdullah, S.H. mendapatkan kepala tukang dan tenaga kerja bangunan, Nyodi datang ke lokasi calon dapur MBG tersebut untuk menemui para tukang serta memberikan arahan dan petunjuk kepada kepala tukang mengenai pekerjaan pembangunan dan renovasi.
Beberapa hari kemudian, Nyodi mengirimkan sebuah draft yang diduga merupakan hasil editan dan disebut sebagai tanda bahwa pengajuan telah disetujui oleh BGN. Setelah itu, Nyodi meminta pembayaran biaya “sundul” secara bertahap.
Total uang yang kemudian ditransfer melalui mobile banking kepada Nyodi mencapai Rp327.000.000.
Dalam proses tersebut, Nyodi juga mengirimkan foto KTP yang sebelumnya diminta oleh Abdullah, S.H. Belakangan diketahui bahwa pada KTP tersebut pekerjaan Nyodi tercantum sebagai pekerja swasta, sedangkan menurut pengakuannya sebelumnya, Nyodi merupakan seorang PNS/guru.
Pada awalnya, Abdullah, S.H. berencana membangun dua titik dapur MBG, yaitu:
-
Dapur MBG yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Mataram Marga, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.
-
Dapur MBG yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Bandar Sari, Kelurahan Bandar Jaya Barat, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah.
Dalam proses pembangunan, Nyodi beberapa kali datang ke lokasi bersama seseorang yang diakuinya sebagai konsultan. Orang tersebut turut memberikan petunjuk dan arahan kepada tenaga kerja bangunan mengenai pekerjaan di lokasi.
Selain itu, Nyodi membujuk Abdullah untuk mencari titik dapur MBG lainnya di Gunung Sugih Raya, Kecamatan Gunung Sugih. Nyodi mengatakan bahwa pada titik tersebut terdapat “jatah Listyo Sigit” yang dalam pemahaman Abdullah, S.H. merujuk kepada Kapolri, serta menyampaikan bahwa akan ada bantuan dana yang disebut sebagai “dana kucur”.
Namun, titik ketiga dapur MBG di Gunung Sugih Raya tersebut akhirnya tidak dibangun oleh Abdullah, S.H. karena Abdullah merasa ragu dan bantuan dana yang disebut akan dikucurkan tersebut tidak kunjung turun.
Selama proses pembangunan berlangsung, Abdullah, S.H. berulang kali meminta nomor telepon pihak yayasan serta meminta NIB yayasan. Namun, nomor telepon dan NIB tersebut tidak diberikan oleh Nyodi dan selalu ditunda dengan berbagai alasan, antara lain dengan alasan menunggu dapur selesai dibangun.
Setelah dua titik dapur MBG tersebut selesai dibangun hingga mencapai 100%, masing-masing dapur juga telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas, antara lain 8 unit AC, Wi-Fi, beberapa rak dan meja stainless steel, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta exhaust/penyedot asap.
Dengan demikian, seluruh pembangunan dan fasilitas yang diminta telah dipenuhi oleh Abdullah, S.H. sesuai dengan proses dan arahan yang diberikan selama pembangunan berlangsung.
